Tuesday, September 07, 2010

Ilmu Humaniora, Membangun Pribadi

Dunia pendidikan mengajarkan kita dua macam ilmu, diantaranya ilmu eksakta yang kita tahu berkaitan dengan logika dan ilmu-ilmu pasti, dan ilmu humaniora yang secara umum membahas mengenai ilmu sosial budaya. Namun, masyarakat cenderung mengagungkan eksakta ketimbang ilmu-ilmu humaniora. Di sekolah, siswa dididik menjadi seseorang yang istimewa dan eksklusif jika masuk jurusan eksakta, dan akan diakui menjadi anak yang cerdas dalam pandangan masyarakat, khususnya dunia pendidikan. Remaja eksakta selalu diidentikkan dengan remaja yang baik, disiplin, rajin, dan tekun. Sebaliknya, remaja humaniora akan selalu diidentikkan dengan remaja yang bodoh, berandalan, suka bolos, dan malas belajar. Meski anggapan ini mudah disangkal dengan kata “belum tentu begitu”, tapi anggapan tersebut seakan-akan telah membatu di benak masyarakat. Padahal sebenarnya ilmu humaniora mengajarkan seseorang untuk lebih manusiawi, atau istilahnya “memanusiakan” manusia.

Humaniora merupakan ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya. Adapun pembagiannya antara lain teologi, filsafat, hukum, sejarah, filologi, bahasa, budaya, linguistik (kajian bahasa), kesusastraan, kesenian, psikologi (Balai Pustaka: 1988).

Pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) ilmu humaniora masuk dalam jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan jurusan IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa), sedangkan ilmu eksakta masuk dalam jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Dengan rata-rata persentase siswa yang masuk dalam jurusan IPS sebanyak 12%, sisanya yaitu sebanyak 88% siswa dari total 280 siswa di SMA N 3 Denpasar tahun ajaran 2008/2009 masuk jurusan IPA.

Dari sana kita dapat menilik bahwa sebagian besar siswa memilih untuk masuk ke jurusan IPA. Hanya seperdelapan-nya saja yang beralih ke IPS. Tentu hal ini timbul dari berbagai macam faktor yang sedikit banyak menyebabkan para remaja beralih untuk lebih condong belajar ilmu eksakta daripada ilmu humaniora. Salah satu penyebabnya adalah pandangan kolot masyarakat luas mengenai pribadi remaja yang menggunakan jiwa sosial, bahasa serta sejarah yang dinilai lebih rendah dari remaja yang belajar dengan menggunakan otak dan logikanya. Masyarakat luas juga masih menggunakan pola pikir yang primitif, dimana mereka memandang hanya remaja yang menggunakan otak dan logikalah yang memiliki pribadi kritis serta sopan santun yang tinggi khususnya dalam hal pekerjaan. Pendidikan humaniora dikatakan tidak mengarah pada kejuruan, pada keterampilan tertentu, melainkan menuju pada pendewasaan pribadi sebagai manusia dan warga negara, bukannya sebagai pekerja pada bidang tertentu. Kasarnya, pendidikan ini abstrak dan tidak praktis untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya, ilmu eksakta dikatakan sebagai ilmu dewa, ilmu yang melebihi segalanya dengan mengandalkan otak serta logika sehingga tidak perlu mendewasakan orang menjadi pribadi sebagai “manusia” yang kritis. Tidak heran jika banyak robot canggih berhasil diciptakan, namun tetap kerdil sebagai manusia.

Hasil penelitian Sekolah Tinggi Manajemen PPM terhadap pelajar SMU di 40 sekolah se-Jabotabek pada bulan Juli-September 2004, seakan-akan menunjukkan bahwa pendidikan humaniora semakin tidak populer atau bahkan tidak diperlukan oleh calon mahasiswa. Demikian halnya, persepsi di kalangan orang tua, pendidikan humaniora tidak semartabat kedokteran, yang berpedoman pada pendidikan eksakta. Persepsi terhadap ilmu humaniora terlalu naïf. Terlalu memandang hanya dengan sebelah mata saja.

Bahkan para orang tua memandang ilmu kedokteran sebagai ilmu yang dinomorsatukan, dengan intelektualitas tinggi, kreatifitas yang disalurkan secara maksimal dan banyak kegiatan yang menguras waktu dan tenaga (dengan adanya banyak praktikum). Lain dengan ilmu ekonomi misalnya, panorama yang mudah ditangkap oleh masyarakat luas terhadap performa mahasiswa fakultas ekonomi ialah pragmatis (kuliah untuk mencari nilai / indeks prestasi), intelektualitas rendah (persepsi bahwa ilmu manajemen adalah ilmu hafalan yang mudah), minim kreatifitas, dan banyak waktu santai (karena tidak ada praktikum).

Hal ini tidak hanya mengaburkan pandangan masyarakat terhadap fakultas ekonomi saja, fakultas sastra, yang notabene mempelajari berbagai macam seni budaya, Sastra Bali yang terdiri dari bahasa lontar dan bahasa agama, yang mewujudkan otentitas sebuah bangsa dan alat komunikasi antar manusia, justru semakin ditinggalkan oleh generasi muda. Mahasiswa di Bali menganggap kuliah sastra daerah tidak memiliki prospek ke masa depan dan kurang bergengsi (Bali Post : 2003).

Rendahnya minat studi pada ilmu humaniora memiliki korelasi yang erat dengan rendahnya kemampuan seseorang untuk bernalar, merumuskan permasalahan dan solusi secara sistematis-rasional, dan berpikir secara kritis. Padahal, tanpa kita sadari Humaniora bermaksud meluruskan jalan untuk pendidikan yang lebih lengkap dan harmonis. Manusia jangan keluar menjadi robot, penuh otak dan otot, tetapi tidak memiliki hati yang berbelas kasihan kepada sesama. Manusia diajarkan untuk bisa berpikir kritis, menilai mana yang baik dan mana yang buruk.

Berpikir kritis sendiri memiliki pemahaman suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk dapat menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan, menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. ( Pery & Potter,2005).

Merosotnya minat siswa untuk belajar menggunakan ilmu humaniora dengan mengambil jurusan IPS, berkolerasi erat dengan performa sekolah masing-masing. Arah dan visi dari sekolah tersebut berubah total dari yang tadinya agen cendekiawan yang menggagas berbagai perubahan sosial ke arah yang lebih baik menjadi suatu institusi yang hanya melahirkan para tukang terdidik saja tanpa memiliki jiwa sosial tinggi terhadap sesama. Demikian juga para siswa dan guru sekali pun, yang sama sekali tidak berminat dengan pembelajaran, penelitian dan kajian wacana serta praksis ilmu humaniora. Situasi pembelajaran yang serba instant semakin merajalela di lingkungan sekolah. Banyaknya kejahatan atau kriminalitas yang dilakukan oleh para remaja siswa, merupakan problematika faktual yang menjadi jawaban di balik rendahnya ketertarikan pada ilmu humaniora.

Ilmu humaniora sesungguhnya tidak boleh diabaikan. Tanpa ilmu humaniora, seseorang akan melakukan segala hal sesuai kehendaknya sendiri, tanpa memperdulikan aturan, tidak memiliki jiwa seni dan kepedulian terhadap budaya. Dalam ilmu humaniora seseorang diajarkan untuk mengenal hukum, keadaan jiwa seseorang (psikologi), kebahasaan, kesenian, agama, filsafat, dan kebudayaan. Dari melihat sub-sub yang berada pada ilmu humaniora, sebenarnya manusia di ajak untuk bisa menjadi lebih baik. Dengan hukum seseorang akan berpikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan karena mereka akan berpikir tentang apa yang mungkin akan terjadi dan konsekuensinya, sayangnya hal ini masih belum diterapkan oleh Indonesia sehingga nilai keberadaban manusia menjadi berkurang.

Remaja Indonesia masih kurang bisa untuk berpikir kritis ke depannya, masih terpatok pada doktrin-doktrin yang hanya membuat mereka seakan-akan menjadi robot tanpa mampu menyuarakan keberaniannya untuk memberi masukan berupa opini pribadi, kritikan, saran maupun pembelaan. Jadi, sesungguhnya peranan ilmu humaniora dalam mengembangkan sikap dan pribadi kritis seorang remaja sangat penting adanya.

Sayangnya pandangan masyarakat mengenai tidak pentingnya ilmu humaniora untuk dipelajari menghambat laju pengembangan ilmu humaniora tersebut. Karena dengan adanya pandangan negatif manusia terhadap ilmu humaniora ini, akan terasa jelas pengaruhnya ke generasi muda yang masih terlibat dalam dunia pendidikan.

Tak hanya masyarakat saja yang memandang remeh orang-orang yang berkecimpung pada dunia humaniora tersebut. Pemerintah pun begitu. Jika pemerintah sadar, bahwa ilmu humaniora memiliki peran penting dalam hal pengembangan pribadi kritis bagi remaja Indonesia, pemerintah seharusnya tidak menganaktirikan ilmu humaniora. Anggapan ini makin mengental tatkala ilmu-ilmu eksakta menjadi ajang pertarungan antarsiswa seluruh dunia lewat olimpiade seperti olimpiade fisika, kimia, maupun matematika. Anak-anak didik yang memenangkan pertarungan tersebut, akan dianggap sebagai anak-anak yang supercerdas, jenius, dan segala embel-embel yang menunjukkan kepintaran mereka. Anak-anak yang menguasai ilmu eksakta akan dipandang serba lebih ketimbang ilmu humaniora yang cuma dipandang sebelah mata. Jika sikap pemerintah seperti ini jelas semakin membuat ilmu humaniora terlupakan malah semakin tenggelam dari permukaan.

Seharusnya Pemerintah dan masyarakata lebih mengerti dan menyadari bahwa ilmu humaniora serta ilmu eksakta memiliki derajat yang sama. Ilmu humaniora juga penting untuk dikembangkan, mengingat masih banyak remaja Indonesia yang belum bisa mengeluarkan keberaniannya untuk beropini, mengkritik serta melakukan pembelaan atas pemikiran-pemikiran mereka. Seandainya masyarakat bisa lebih mengerti dan tidak memandang ilmu humaniora dengan sebelah mata saja, ilmu humaniora pasti bisa lebih di kembangkan penggunaannya. Padahal ilmu ini mengajarkan seseorang untuk berjiwa social, berperikemanusiaan, berbudaya dan seni.

Berdasarkan kenyataan itu, ilmu humaniora seharusnya dikembangkan lebih lanjut bukannya divakumkan atau malah “dianaktirikan”. Karena ilmu humaniora memiliki peranan penting dalam membangun pribadi anak Indonesia agar bisa lebih berani mengungkapkan pemikiran-pemikirannya. Untuk itu, berhentilah berpikir pendek mengenai ilmu humaniora dan mulailah berpikir kritis dengan ilmu humaniora.

No comments:

Post a Comment