Dunia pendidikan mengajarkan kita dua macam ilmu, diantaranya ilmu eksakta yang kita tahu berkaitan dengan logika dan ilmu-ilmu pasti, dan ilmu humaniora yang secara umum membahas mengenai ilmu sosial budaya. Namun, masyarakat cenderung mengagungkan eksakta ketimbang ilmu-ilmu humaniora. Di sekolah, siswa dididik menjadi seseorang yang istimewa dan eksklusif jika masuk jurusan eksakta, dan akan diakui menjadi anak yang cerdas dalam pandangan masyarakat, khususnya dunia pendidikan. Remaja eksakta selalu diidentikkan dengan remaja yang baik, disiplin, rajin, dan tekun. Sebaliknya, remaja humaniora akan selalu diidentikkan dengan remaja yang bodoh, berandalan, suka bolos, dan malas belajar. Meski anggapan ini mudah disangkal dengan kata “belum tentu begitu”, tapi anggapan tersebut seakan-akan telah membatu di benak masyarakat. Padahal sebenarnya ilmu humaniora mengajarkan seseorang untuk lebih manusiawi, atau istilahnya “memanusiakan” manusia.
Humaniora merupakan ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya. Adapun pembagiannya antara lain teologi, filsafat, hukum, sejarah, filologi, bahasa, budaya, linguistik (kajian bahasa), kesusastraan, kesenian, psikologi (Balai Pustaka: 1988).
Pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) ilmu humaniora masuk dalam jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dan jurusan IPB (Ilmu Pengetahuan Bahasa), sedangkan ilmu eksakta masuk dalam jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Dengan rata-rata persentase siswa yang masuk dalam jurusan IPS sebanyak 12%, sisanya yaitu sebanyak 88% siswa dari total 280 siswa di SMA N 3 Denpasar tahun ajaran 2008/2009 masuk jurusan IPA.
Dari
Hasil penelitian Sekolah Tinggi Manajemen PPM terhadap pelajar SMU di 40 sekolah se-Jabotabek pada bulan Juli-September 2004, seakan-akan menunjukkan bahwa pendidikan humaniora semakin tidak populer atau bahkan tidak diperlukan oleh calon mahasiswa. Demikian halnya, persepsi di kalangan orang tua, pendidikan humaniora tidak semartabat kedokteran, yang berpedoman pada pendidikan eksakta. Persepsi terhadap ilmu humaniora terlalu naïf. Terlalu memandang hanya dengan sebelah mata saja.
Bahkan para orang tua memandang ilmu kedokteran sebagai ilmu yang dinomorsatukan, dengan intelektualitas tinggi, kreatifitas yang disalurkan secara maksimal dan banyak kegiatan yang menguras waktu dan tenaga (dengan adanya banyak praktikum). Lain dengan ilmu ekonomi misalnya, panorama yang mudah ditangkap oleh masyarakat luas terhadap performa mahasiswa fakultas ekonomi ialah pragmatis (kuliah untuk mencari nilai / indeks prestasi), intelektualitas rendah (persepsi bahwa ilmu manajemen adalah ilmu hafalan yang mudah), minim kreatifitas, dan banyak waktu santai (karena tidak ada praktikum).
Hal ini tidak hanya mengaburkan pandangan masyarakat terhadap fakultas ekonomi saja, fakultas sastra, yang notabene mempelajari berbagai macam seni budaya, Sastra Bali yang terdiri dari bahasa lontar dan bahasa agama, yang mewujudkan otentitas sebuah bangsa dan alat komunikasi antar manusia, justru semakin ditinggalkan oleh generasi muda. Mahasiswa di Bali menganggap kuliah sastra daerah tidak memiliki prospek ke masa depan dan kurang bergengsi (Bali Post : 2003).
Rendahnya minat studi pada ilmu humaniora memiliki korelasi yang erat dengan rendahnya kemampuan seseorang untuk bernalar, merumuskan permasalahan dan solusi secara sistematis-rasional, dan berpikir secara kritis. Padahal, tanpa kita sadari Humaniora bermaksud meluruskan jalan untuk pendidikan yang lebih lengkap dan harmonis. Manusia jangan keluar menjadi robot, penuh otak dan otot, tetapi tidak memiliki hati yang berbelas kasihan kepada sesama. Manusia diajarkan untuk bisa berpikir kritis, menilai mana yang baik dan mana yang buruk.
Berpikir kritis sendiri memiliki pemahaman suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk dapat menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian atau keputusan berdasarkan kemampuan, menerapkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. ( Pery & Potter,2005).
Merosotnya minat siswa untuk belajar menggunakan ilmu humaniora dengan mengambil jurusan IPS, berkolerasi erat dengan performa sekolah masing-masing. Arah dan visi dari sekolah tersebut berubah total dari yang tadinya agen cendekiawan yang menggagas berbagai perubahan sosial ke arah yang lebih baik menjadi suatu institusi yang hanya melahirkan para tukang terdidik saja tanpa memiliki jiwa sosial tinggi terhadap sesama. Demikian juga para siswa dan guru sekali pun, yang sama sekali tidak berminat dengan pembelajaran, penelitian dan kajian wacana serta praksis ilmu humaniora. Situasi pembelajaran yang serba instant semakin merajalela di lingkungan sekolah. Banyaknya kejahatan atau kriminalitas yang dilakukan oleh para remaja siswa, merupakan problematika faktual yang menjadi jawaban di balik rendahnya ketertarikan pada ilmu humaniora.
Ilmu humaniora sesungguhnya tidak boleh diabaikan. Tanpa ilmu humaniora, seseorang akan melakukan segala hal sesuai kehendaknya sendiri, tanpa memperdulikan aturan, tidak memiliki jiwa seni dan kepedulian terhadap budaya. Dalam ilmu humaniora seseorang diajarkan untuk mengenal hukum, keadaan jiwa seseorang (psikologi), kebahasaan, kesenian, agama, filsafat, dan kebudayaan. Dari melihat sub-sub yang berada pada ilmu humaniora, sebenarnya manusia di ajak untuk bisa menjadi lebih baik. Dengan hukum seseorang akan berpikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan karena mereka akan berpikir tentang apa yang mungkin akan terjadi dan konsekuensinya, sayangnya hal ini masih belum diterapkan oleh
Remaja
Sayangnya pandangan masyarakat mengenai tidak pentingnya ilmu humaniora untuk dipelajari menghambat laju pengembangan ilmu humaniora tersebut. Karena dengan adanya pandangan negatif manusia terhadap ilmu humaniora ini, akan terasa jelas pengaruhnya ke generasi muda yang masih terlibat dalam dunia pendidikan.
Tak hanya masyarakat saja yang memandang remeh orang-orang yang berkecimpung pada dunia humaniora tersebut. Pemerintah pun begitu. Jika pemerintah sadar, bahwa ilmu humaniora memiliki peran penting dalam hal pengembangan pribadi kritis bagi remaja
Seharusnya Pemerintah dan masyarakata lebih mengerti dan menyadari bahwa ilmu humaniora serta ilmu eksakta memiliki derajat yang sama. Ilmu humaniora juga penting untuk dikembangkan, mengingat masih banyak remaja
Berdasarkan kenyataan itu, ilmu humaniora seharusnya dikembangkan lebih lanjut bukannya divakumkan atau malah “dianaktirikan”. Karena ilmu humaniora memiliki peranan penting dalam membangun pribadi anak
No comments:
Post a Comment